RISTA FAUZININGTYAS

Dream is not only imagination but also make it happen

ELDER ABUSE, APA YANG SUDAH KITA TAHU???

02 March 2017 - dalam Umum Oleh ristafauziningtyas-fkp

Elder Abuse atau kekerasan pada lansia masih kalah terkenal jika dibandingkan kekerasan pada anak dan kekerasan di dalam rumah tangga yang jamak terjadi sekarang ini. Survei mengenai kekerasan lansia  yang dilakukan departemen sosial pada tahun 2007 di 10 ibukota provinsi  didapatkan kekerasan fisik berupa tamparan (17,43%), kekerasan psikologis berupa dibentak (31,36 %), kekerasan sosial berupa perlakuan tidak adil sebesar (67,33 %), penelantaran atau pengabaian(68,55 %), (Depsos, 2008). Lalu sebenarnya apa dan bagaimana elder abuse ini terjadi. Mungkin beberapa kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran kepada para pembaca:

Kisah 1:“....Hidup sebatang kara setelah “diusir” oleh anak-anaknya, membuat hati seorang nenek bernama Tetty Mudjiati, hancur. Roda kehidupan yang terus berputar pun membuat dirinya semakin tak berdaya......

....Ada beberapa koran bekas, triplek, kardus, yang menjadi teman setia nenek berusia 78 tahun ini untuk sekedar membaringkan tubuhnya di Poskamling Perumahan Rejo Indah PGRI, Desa Japunan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang...”(Ismiyanto, 2015)

Kisah 2: “...Nenek A mengalami jatuh dan patah tulang tertutup panggul. Akibatnya sang Nenek mengalami nyeri yang tidak dapat ia tahan dan mengalami kesulitan yang sangat untuk bergerak. Pengasuhnya membawa nenek tersebut ke sebuah Rumah Sakit pemerintah, karena memerlukan tindakan operasi. Keluarga nenek tersebut menolak rencana itu karena alasan pembiayaan. Petugas kesehatan saat itu menyarankan keluarga untuk mengurus BPJS. Pihak RS Pemerintah pun telah memberikan kemudahan untuk melakukan operasi segera. Namun pihak keluarga masih berkeberatan untuk mengizinkan dilakukan operasi tersebut, dengan alasan tidak ada yang menjaga klien selama di RS. Sebuah panti berupaya membantu menyediakan penunggu yang dibayar oleh keluarga. Hingga akhirnya keluarga tetap berkeberatan dan lansia tersebut tidak dioperasi..”

Kisah pertama di atas adalah berita yang dimuat di Tribun Jogja, 19 Maret 2015  dan kisah kedua adalah pengalaman langsung penulis pada saat penelitian di sebuah panti werdha di Surabaya, merupakan gambaran pengabaian pada lansia (Neglect).  Pengabaian pada lansia merupakan salah satu bagian Elderly abuse, atau bentuk kesalahan perawatan yang menyebabkan kesakitan atau kerugian pada lansia. Menurut WHO,  hal ini merupakan tindakan yang tidak pantas bagi pada lansia.

National Committee for the Prevention of  Elder Abuse (NCPEA), New York., mendefinisikan kekerasan fisik (Physical Abuse) yang menimbulkan perlukaan, sexsual abuse atau pelecehan seksual, upaya verbal maupun non verbal yang berefek kondisi emosi dan mental lansia(Psychological/Emotional Abuse), pengabaian (Neglect) atau penolakan atau kegagalan individu untuk memenuhi tugas atau kewajiban kepada lansia  termasuk ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, keamanan, pakaian, obat – obatan, perawatan dan kegagalan bagi keluarga yang bertanggung jawab secara finansial untuk membiayai biaya panti wredha, dan eksploitasi finansial (Financial/Material Exploitation) pemakaian secara ilegal sumber daya yang dimiliki oleh lansia termasuk properti, uang dan warisan sebagai elder abuse (EA).

TANDA DAN GEJALA ELDER ABUSE

Bagaimana perawat mengetahui terjadi kekerasan pada Lansia? Adanya luka memar, baik dengan gambaran yang jelas maupun tidak, misal memar dengan cetakan jari atau tongkat; Tanda akut gigi terlepas disertai dengan perdarahan dan rambut lepas dalam jumlah yang banyak dan kemeraha pada kulit kepala; Lecet dan bekas ikatan pada pergelangan tangan dan kaki, dan overdosis obat adalah beberapa diantara tanda nyata EA telah terjadi. Namun demikian, tidak semua tanda dapat diketahui. seperti halnya tanda akibat kekerasan seksual sulit untuk diketahui oleh orang terdekat. Perdarahan dan atau robekan pada daerah anal dan alat kelamin dapat menjadi kecurigaanadanya kekerasan seksual. Di sinilah kewaspadaan keluarga perlu ditingkatkan. Sedangkan gejala lain yang tidak dapat diabaikan adalah cemas berlebihan, takut, menjadi pendiam apabila banyak orang, terlihat murung dan menyendiri, perubahan pola tidur, imsonia dan penurunan nafsu makan.

Pengabaian lansia dapat terjadi akibat unsur kesengajaan dan tidak sengaja. Pengabaian tidak disengaja kapat terjadi akibat pengetahuan keluarga yang kurang. Sebagai contohnya, personal hygiene buruk (bau pesing, rambut lepek, baju kusut, kuku kotor, gigi kuning dan bau), kulit pecah, malnutrisi (kurus) atau dehidrasi, kondisi lingkungan yang kotor dan tidak aman.

Kekerasan financial dapat menjadi motif pada kekerasan yang lain. Kekerasan ini ditandai dengan kehilangan benda atau uang, pengalihan kepemilikan tanah atau aset lain secara tiba-tiba, penggunaan ATM atau kartu kredit dalam jumlah banyak, tidak melakukan pembayara pada rekening listrik, rumah atau air, dan penandatangan berkas tertentu dengan ancaman. Kondisi ini sangat sulit diketahui oleh tenaga kesehatan, dapat menjadi temuan apabila ada pelaporan dari korban atau sudah terjadi bentuk kekerasan yang lain.

FAKTOR PEMICU ELDER ABUSE

Beragam faktor dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan pada lansia. Faktor tersebut dapat berasal dari keluarga, diri lansia dan lingkungan. Lansia yang mengalami penurunan kesehatan, gangguan kognitif dan sebatang kara akan meningkatkan resiko elder abuse. Kondisi keluarga dengan latar belakang pernah menjadi korban atau pelaku kekerasan, kemiskinan, keluarga yang tidak harmonis, pengetahuan yang tidak adekuat akan menimbulkan disstres. Kondisi lingkungan yang acuh dan tidak memiliki sistem pendukung juga meningkatkan kesempatan terjadi kekerasan pada lansia

BAGAIMANA MENCEGAH ELDER ABUSE

Pencegahan kekerasan pada lansia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas kesehatan, perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mencegah hal tersebut. Pemerintah sebagai penentu kebijakan perlu turut serta mencegah kekerasan terhadap lansia serta memberikan sanksi pada pelakunya. Saat ini telah ada UU nomer 13 tahun 1998 mengenai kesejahteraan lansia. Namun UU tersebut belum sepenuhnya melindungi lansia dari tindak kekerasan terhadap . Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 34 tahun 2010 juga telah membahas hal ini, tetapi hanya terbatas  untuk lansia perempuan. Lalu bagaimana dengan lansia laki-laki? Kebijakan ternyata masih belum memberikan ‘perlindungan hukum’ terhadap lansia laki-laki. Pemerintah dan tenaga kesehatan sangat diharapkan untuk memahami masalah-masalah yang telah saya paparkan di atas. Kita sebagai tenaga kesehatan juga wajib untuk meningkatkan keperdulian masyarakat terhadap kasus kekerasan lansia. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk memberikan perlindungan bagi seluruh lansia.

 

Artikel ini telah dipublikasikan pada MAjalah PPNI Jawa Timur Edisi 2, Tahun 2016

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :